Kamis, 06 Oktober 2011

Tik Tuk

Sebuah inspirasi baru saja lewat. Tiba-tiba saya ingin menyimpulkan sesuatu... hehe...


People need to ask and say it.
Whether it is right or wrong, who knows?
Let we see the answer after we try.


Huagagagagaga,,,,
Maaf kalo ada grammar yang salah.
Intinya itulah.

Selasa, 04 Oktober 2011

Bumi Sayangku, Jangan Marah Plisss!

Global Warming. Saya pertama kali dengar istilah ini waktu awal masuk SMA, sekitar tahun 2006. Dengan rasa penasaran, saya baca-baca buku tentang lingkungan.Ternyata mulai tahun 1950an, atau bahkan sebelum itu bumi ini sudah "dirusak" secara massal (kebanyakan sih karena alasan industri). Kalau dipikir-pikir, manusia memang kadang suka telmi. Butuh waktu sekitar 50 tahun untuk sadar kalau bumi mengalami SESUATU. Yap, kerusakan. Bumi telah dianiaya! Besar-besaran. Secara rame-rame, ironisnya oleh penghuninya sendiri yang sangat bergantung padanya karena nggak punya tempat hidup lain selain di tempat ini, BUMI.

Oke, kenapa harus repot-repot demo tentang global warming? Kenapa nggak mulai dari diri sendiri?
Memang ini hal yang biasa, klise, remeh, semua orang tahu, tapi yang paling bikin gemes, sudah tahu kenapa nggak segera berbuat SESUATU? Ayo mulai sekarang!

  • Hindari plastik, misalnya plastik botol minuman. Konsumsi minuman berbotol plastik dapat kita hindari dengan cara membawa minuman sendiri dari rumah. Selain mengurangi konsumsi plastik, cara ini juga menghemat duit juga, hehe...
  • Bersepeda atau berjalan kaki atau naik becak (jangan lupa pake masker, ya!). Asap kendaraan bermotor banyak mengandung karbon monoksida. Gas ini dapat menyebabkan kita yang menghirupnya lama-lama jadi anemia kronis. (Tuh, bumi ama tubuh kita bisa sama-sama sekarat).
  • Kurangi kebiasaan membungkus. Kalo kita membeli makanan, sebisa mungkin mengurangi kertas atau plastik pembungkus. Bisa dengan cara kita makan di tempat yang jual, atau kita bawa kotak tempat makan sendiri.
  • Menghemat listrik. Simpel, padamkan lampu yang nggak digunakan. Ah iya, kalau lagi nge-charge hape, laptop, atau apa pun, segera cabut ketika baterainya sudah penuh.
  • Kurangi penggunaan kertas dan tisu. Ganti kertas dengan iPad, dan tisu dengan serbet (sapu tangan). Tapi sayang, iPad masih mahal. Haha...
  • Hemat air! Caranya: kalo ada shower (atau selang, hehe), mandi pake shower ternyata lebih meghemat air. Tapi mandinya juga jangan lama-lama. Kalo nggak ada shower, mungkin bisa bikin target sekali mandi cukup 10-12 gayung. 
  • Berkebun. Bikin suasana di sekitar tempat tinggal kita sehijau mungkin. Selain bikin adem dan ramah lingkungan, tanaman juga bisa membuat kita lebih rileks dan sehat.
  • Naik kendaraan umum. Kalau mau bepergian tapi cuman sendirian aja, naik angkot atau bus kota bisa dijadikan pilihan utama. Selain ikut menjaga lingkungan karena nggak menambah polusi udara, kita bisa dapet teman ngobrol di perjalanan.

Ayo selamatkan diri sendiri ^__^
Kalau nggak di bumi, dimana lagi kita (+ anak, cucu, cicit) mau tinggal???
Mars? Ogah ah =P





Minggu, 02 Oktober 2011

Rumah

Rumah. Satu kata yang bisa bikin saya mendadak jadi melankolis. Well, ini hari Minggu dan besok sudah Senin. Rasanya tambah menyakitkan kalau harus membahas tentang rumah menjelang hari sibuk sedunia. Tapi saya nggak peduli, saya benar-benar kangen rumah. Ada satu rumah yang benar-benar saya rindukan. Rumah yang dulu pernah saya tempati bersama keluarga saya, mulai saya lahir sampai kelas 5 SD. Memang tidak ada orang lain yang peduli dengan rumah itu sekarang, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saya pengen ke sana. Melihat dapurnya yang luas dengan meja persegi besar yang mengisi penuh ruangan itu. Bukan, saya bukan rindu sama mejanya. Saya rindu aromanya. Aroma manis ketika Yu Nik membuat kue terang bulan. Aroma gurih ketika Mbak Susi memasak ayam goreng tepung. Aroma pahit ketika saya gagal membuat kue bolu. Hahaha... Hemm, saya juga rindu sama mereka berdua.

Kenapa saya rindu rumah itu? Mungkin karena masa emas pertumbuhan saya waktu kecil dihabiskan di rumah itu. Kalau lihat-lihat foto saya dari bayi sampai balita, semua berlatar belakang rumah itu. Gimana saya nggak gila, cuman saya dalam satu keluarga yang punya memori paling sensitif di rumah itu. Karena itu rumah dinas, dan kebetulan waktu saya lahir, orang tua saya baru saja menempati rumah itu. Dan ketika kini semuanya tumbuh dan semakin tua, rumah itu sudah lama ditinggalkan, dan sudah lama dilupakan. Hiks... hiks... Saya nggak bisa terima kalau orang-orang mencampakkan rumah itu. Well, kalimat terakhir memang sengaja saya dramatisir.

Yah, pikiran orang sering ngacir kemana-mana. Harusnya sekarang saya lagi berkutat sama bahan kuliah buat diskusi besok, tapi tak apalah flashback sebentar. Kapan saya bisa sekadar kembali untuk mampir ke rumah itu? Hemm, agak susah memang. Tapi hei, kenapa tidak memikirkan rumah yang lain saja? 

Masih ada 3 rumah lagi yang berisi memori tak kalah mengharukan. Yap, dan sekarang akan bertambah jadi 4. InsyaAllah bulan Januari saya mau pindah ke rumah yang lain lagi. Hehehehehe...
Muga aja ini akan jadi rumah yang benar-benar rumah...
I hope so!  ^___^